Dua puluh lima tahun...
Seonggok bangkai berjalan di dunia
Tiada memiliki tujuan dan arah
Hanya mengikuti kemana takdir membawa
Dua puluh tiga tahun...
Kalbunya tertutupi kelabu
Cintanya terombang-ambing ragu
Rindunya hanyalah sebuah candu
Delapan belas tahun...
Hanya memakan bangku sekolah
Berteman dengan kegelisahan dan derita
Bersahabat dengan sunyi dan sepi
Dua belas tahun...
Kebagahagian telah mati baginya
Impian dan ambisi hanya semu
Kehidupan hanya kematian yang menunggu
Delapan tahun...
Jiwa dan hatinya telah mati
Dunia sempit dan menyesakkan
Raganya mulai membusuk mengikuti jiwanya
Dua tahun...
Berjalan dia di dunia
Mencari impian dan cita-cita
Yang berkahir menjadi kenangannya
Hari ini...
Haruslah terbangun sang bangkai
Memenuhi harap dan keinginan di hati
Sebelum menjadi debu dirinya...